Budaya Kewargaan Komunitas Islam di Daerah Aman dan Rentan Konflik

Sejak jatuhnya kekuasaan Soeharto, terdapat usaha yang sungguh-sungguh dari bangsa ini untuk mewujudkan demokrasi di tanah air. Demokratisasi adalah upaya mengembangkan kehidupan sosial politik yang lebih sehat. Dalam kerangka itu komunitas-komunitas keagamaan diharapkan tidak hanya memiliki keleluasaan untuk menjalankan agamanya serta mengembangkan potensi-potensi sosial budayanya, tetapi juga mendapat dukungan struktural yang memfasilitasi berkembangnya kehidupan keagamaan yang harmonis, multikulturalis dan inklusif. Hal ini penting karena salah satu watak demokrasi adalah mengakomodasi pluralitas dan diversitas kultural keagamaan, sehingga diharapkan solidaritas sosial, saling percaya, toleransi, bahkan kerjasama kolektif komunitas-komunitas keagamaan akan lebih bersifat alami dan sustainable. Tetapi implementasi ide multikulturalitas, pluralitas, humanitas dan inklusivitas agaknya belum terwujud secara signifikan dalam kehidupan keagamaan sehari-hari. Yang lebih mendasar lagi, beberapa elemen budaya kewargaan belum membudaya dalam komunitas Islam. Kondisi tersebut berimplikasi pada tersendatnya proses demokratisasi di kalangan Islam, sehingga pada gilirannya, agama kurang berperan sebagai basis motivasi bagi terwujudnya budaya kewargaan.

Penelitian ini mengkaji budaya kewargaan yang ada dalam komunitas-komunitas Islam. Untuk tahun pertama dipilih lokasi rentan konflik, yaitu Surakarta, Cianjur dan Bogor. Penelitian yang menggunakan pendekatan campuran kualitatif dan kuantitatif menghasilkan temuan, antara lain bahwa derajat budaya kewargaan komunitas muslim di tiga daerah penelitiaan relatif telah berkembang walaupun tidak seluruhnya menggembirakan. Proses terbentuknya budaya kewargaan itu dipengaruhi oleh pemahaman akan teks ajaran agama dan konteks tempat mereka hidup. Teks agama dalam toleransi misalnya memang ada yang mendorong eksklusifisme dan adapula yang inklusivisme. Pemahaman atas ini melahirkan sikap untuk domain agama terdapat batas yang tegas antara muslim dan non muslim, tetapi dalam domain duniawi, toleransi berdifat kemanusiaan tanpa kenal perbedaan agama maupun etnik. Konteks sosial, politik, ekonomi juga mempengaruhi perkembangan budaya kewargaan. Konteks yang dipersepsi tidak kondusif menyebabkan budaya kewargaan tidak tumbuh dengan baik dan sebaliknya. Dengan demikian hubungan antara teks dan konteks dengan budaya kewargaan bernilai signifikan.


Penulis : Muhammad Hisyam, Dundin Zaenuddin, M. Hamdan Basyar, Dhurorudin Mashad, Jajat Burhanudin
Editor : Muhammad Hisyam.
ISBN : 979-799-058-3
No. Klasifikasi : 397.4
Subyek Klasifikasi : 1. budaya islam. 2. konflik
Kolasi : viii;217hlm; 21cm
Tahun Penerbitan : 2006
Penerbit : LIPI PRESS

SATKER TAK DIISI
This entry was posted in Buku Ilmiah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>