| Penulis | Artikel | Abstrak |
|---|---|---|
| Sundjono | STUDI PENGENDALIAN KERAK CaSO4 DENGAN SENYAWA FOSFONAT ORGANIK DAN POLIMER | Masalah kerak CaSO4 masih sering ditemukan dalam unit prsoses, meskipun pengolahan eksternal telah dilakukan terhadap air baku sebelum digunakan untuk proses. Laju pembentukan kerak tergantung pada derajat salinitas, pH, kesadahan bikarbonat, non-bikarbonat, dan temperatur. Pada umumnya, kegagalan unit proses akibat kerak sering terjadi dalam unit desalinasi dan penukar panas. Masalah kerak pada unit proses perlu dikendalikan secara optimal, melalui pengolahan internal diantaranya dengan penambahan inhibitor yang sesuai untuk menghambat terbentuknya kerak. Penelitian efek inhibitor kerak dan efisiensi inhibisi pertumbuhan kerak CaSO4 dilakukan berdasarkan metoda standar NACE 03-74. Parameter uji meliputi jenis inhibitor kerak : Bis Hexamethylene triamine Pentanethylene Phosphonic Acid (BHMT), Pentasodium Aminotrimethylphosphonate (Na5-ATMP), 2-Phosphonobutane-1,2,4 Tricarxylic Acid (PBTC), 1- Hydroxethylidine-1,1- Diphos-phonic Acids (HEDP), Polyacrylic Acid (PCA) dan Polymaleate Acid (PMA), dosis inhibitor : 0, 1, 3, 5, 10 dan 20 ppm, temperatur larutan : 50, 70 dan 90 oC, waktu ekspose : 1 dan 3 hari. |
| M.N. Setia Nusa | KOROSI EROSI YANG MENGAKIBATKAN RUSAKNYA FLANGE PIPA PENYALUR | Sebuah flange sistem pemipaan yang mengalami korosi erosi pada permukaan dalamnya. Untuk itu dilakukan analisis kerusakan dengan pengujian dan pemeriksaan visual, fraktografi, metalografi, SEM, EDAX, uji kekerasan dan uji komposisi kimia. Hasil pengujian menunjukkan kerusakan yang terjadi pada permukaan dalam flange tampak lebih kasar dan memiliki lobang-lobang yang menyerupai sarang lebah dan merupakan kerusakan yang disebabkan oleh kavitasi akibat dari pergesekan cairan pertemuan dengan permukaan dalam flange yang didukung oleh gerakan cepat cairan sehingga menghasilkan banyak lobang. Hal ini juga disebabkan oleh perubahan diameter dalam pada ball valve serta pembukaan flange yang tidak penuh. |
| Harsisto, Moch. Syaiful Anwar | FAILURE ANALYSIS OF CAST MATERIAL 316 L OF SEA WATER PUMP IMPELLER IN THE PETROLEUM INDUSTRIES | Characterization tests have been conducted and analysis of material failure pump impeller for cooling in the petroleum industries with sea water environmenti indicates the use stainless steel casting 316 L. Based on results in the failure analysis laboratory, the good impeller material has the actual level of carbon matrix element which is very low (0.0082% weight). Low carbon content, that can reduce the formation of carbide compound and ferrite phase when precipitated in grains boundary, will trigger the occurrence of grain boundary corrosion. Based on the mechanical testing on cracked or ruptured impeller material, the impeller material has been embrittled. The embrittlement process happens because the corrosion attack is preceded by the formation of protected layer Cr2O3 in sea water followed by the occurrence of pit corrosion, increase of the pH solution in the corrosion pit hole, hydrogen atom inclusion from solution to the corrosion pit hole and the formation of H2 and CH4 gases which can cause hydrogen embrittlement in the material. Within the above mentioned material, the corrosion will rise cracked that characterized by the presence of lines in the fracture surface. |
| Solihin, Harini | Tinjauan Pembuatan Komposit Melalui Proses Elektrokimia | Makalah ini memaparkan secara singkat proses elektrokimia kodeposisi. Elektrokodeposisi partikelpartikel penguat semisal SiC, BN, C-diamond, Cgrafit, dan Al2O3 yang tersuspensi dalam larutan ionion logam akan menghasilkan komposit bermatriks logam (metal-matrix composite, MMC). Variabel proses elektrokodeposisi berpengaruh terhadap sifat- sifat fisik/mekanis komposit tersebut. Kekerasan elektrokomposit yang dihasilkan merupakan fungsi dari konsentrasi partikel, agitasi, dan rapat arus. |
| Ronald Nasoetion, Sundjono | PENGARUH KHROMAT PADA KOROSI TEGANG BAJA TAHAN KARAT AISI 304 DI DALAM LARUTAN 0.82 M HCl | Telah dilakukan penelitian mengenai korosi tegang dari baja tahan karat 304 sebagai fungsi dari tegangan, konsentrasi khromat dan temperatur operasi di dalam larutan 0.82 kmol/m3 HCl menggunakan beban statik. Didapatkan bahwa pertambahan panjang di daerah steady state di dalam korosi tegang dalam daerah dominasi akan berguna untuk menentukan waktu patah dan memperkirakan kemungkinan korosi tegang dari faktor-faktor di atas. Walaupun demikian, korosi sumuran terjadi diseluruh permukaan pada konsentrasi khromat 0.09 dan 0.1 kmol/m3 yang mengakibatkan patah (bukan disebabkan oleh korosi tegang). Dalam kasus ini, pertambahan panjang di daerah steady state tidak dapat digunakan untuk memprediksi waktu patah. Konsentrasi kritis dari khromat dan temperatur kritis diperkirakan pada tegangan tetap sebesar 388 MPa. Hasil yang didapat, lebih jauh menunjang mekanisme korosi tegang sudah dipublikasikan, yang mana telah dibahas di dalam faktor dari rapat arus korosi pada retakan dan sepanjang retakan propagasi. |
Penulis : Sundjono, M.N. Setia Nusa, Harsisto, Moch. Syaiful Anwar,
Solihin, Harini, Ronald Nasoetion, Sundjono
Dewan redaksi : Bambang Widyanto, Isdiriayani Nurdin, Andika W. Pramono,
Ronald Nasoetion, Sundjono, Harini, Harsisto, Bintoro Siswayanti, Yulinda Lestari, Noor Hidayah
ISSN : 0126-3579
Tahun Penerbitan : 2009
Penerbit : LIPI PRESS Satker: P2 Metalurgi

