Jurnal KOROSI, Volume 18 No. 1, April 2009

PenulisArtikelAbstrak
SundjonoSTUDI PENGENDALIAN KERAK CaSO4
DENGAN SENYAWA FOSFONAT ORGANIK DAN POLIMER
Masalah kerak CaSO4 masih sering ditemukan
dalam unit prsoses, meskipun pengolahan eksternal
telah dilakukan terhadap air baku sebelum digunakan
untuk proses. Laju pembentukan kerak tergantung
pada derajat salinitas, pH, kesadahan bikarbonat,
non-bikarbonat, dan temperatur.
Pada umumnya, kegagalan unit proses akibat
kerak sering terjadi dalam unit desalinasi dan penukar
panas. Masalah kerak pada unit proses perlu dikendalikan
secara optimal, melalui pengolahan internal
diantaranya dengan penambahan inhibitor yang sesuai
untuk menghambat terbentuknya kerak.
Penelitian efek inhibitor kerak dan efisiensi inhibisi
pertumbuhan kerak CaSO4 dilakukan berdasarkan
metoda standar NACE 03-74. Parameter uji meliputi
jenis inhibitor kerak : Bis Hexamethylene triamine
Pentanethylene Phosphonic Acid (BHMT), Pentasodium
Aminotrimethylphosphonate (Na5-ATMP),
2-Phosphonobutane-1,2,4 Tricarxylic Acid (PBTC), 1-
Hydroxethylidine-1,1- Diphos-phonic Acids (HEDP),
Polyacrylic Acid (PCA) dan Polymaleate Acid (PMA),
dosis inhibitor : 0, 1, 3, 5, 10 dan 20 ppm, temperatur
larutan : 50, 70 dan 90 oC, waktu ekspose : 1 dan 3
hari.
M.N. Setia NusaKOROSI EROSI YANG MENGAKIBATKAN RUSAKNYA
FLANGE PIPA PENYALUR
Sebuah flange sistem pemipaan yang mengalami
korosi erosi pada permukaan dalamnya. Untuk itu
dilakukan analisis kerusakan dengan pengujian dan
pemeriksaan visual, fraktografi, metalografi, SEM,
EDAX, uji kekerasan dan uji komposisi kimia. Hasil
pengujian menunjukkan kerusakan yang terjadi pada
permukaan dalam flange tampak lebih kasar dan
memiliki lobang-lobang yang menyerupai sarang
lebah dan merupakan kerusakan yang disebabkan
oleh kavitasi akibat dari pergesekan cairan pertemuan
dengan permukaan dalam flange yang didukung oleh
gerakan cepat cairan sehingga menghasilkan banyak
lobang. Hal ini juga disebabkan oleh perubahan diameter
dalam pada ball valve serta pembukaan flange
yang tidak penuh.
Harsisto, Moch. Syaiful AnwarFAILURE ANALYSIS OF CAST MATERIAL 316 L OF SEA WATER PUMP
IMPELLER IN THE PETROLEUM INDUSTRIES
Characterization tests have been conducted and
analysis of material failure pump impeller for cooling
in the petroleum industries with sea water environmenti
indicates the use stainless steel casting 316 L.
Based on results in the failure analysis laboratory, the
good impeller material has the actual level of carbon
matrix element which is very low (0.0082% weight).
Low carbon content, that can reduce the formation of
carbide compound and ferrite phase when precipitated
in grains boundary, will trigger the occurrence of grain
boundary corrosion. Based on the mechanical testing
on cracked or ruptured impeller material, the impeller
material has been embrittled. The embrittlement process
happens because the corrosion attack is preceded
by the formation of protected layer Cr2O3 in sea water
followed by the occurrence of pit corrosion, increase
of the pH solution in the corrosion pit hole, hydrogen
atom inclusion from solution to the corrosion pit hole
and the formation of H2 and CH4 gases which can
cause hydrogen embrittlement in the material. Within
the above mentioned material, the corrosion will rise
cracked that characterized by the presence of lines in
the fracture surface.
Solihin, HariniTinjauan Pembuatan Komposit
Melalui Proses Elektrokimia
Makalah ini memaparkan secara singkat proses
elektrokimia kodeposisi. Elektrokodeposisi partikelpartikel
penguat semisal SiC, BN, C-diamond, Cgrafit,
dan Al2O3 yang tersuspensi dalam larutan ionion
logam akan menghasilkan komposit bermatriks
logam (metal-matrix composite, MMC). Variabel
proses elektrokodeposisi berpengaruh terhadap sifat-
sifat fisik/mekanis komposit tersebut. Kekerasan
elektrokomposit yang dihasilkan merupakan fungsi
dari konsentrasi partikel, agitasi, dan rapat arus.
Ronald Nasoetion, SundjonoPENGARUH KHROMAT PADA KOROSI TEGANG BAJA TAHAN
KARAT AISI 304 DI DALAM LARUTAN 0.82 M HCl
Telah dilakukan penelitian mengenai korosi
tegang dari baja tahan karat 304 sebagai fungsi dari
tegangan, konsentrasi khromat dan temperatur operasi
di dalam larutan 0.82 kmol/m3 HCl menggunakan beban
statik. Didapatkan bahwa pertambahan panjang di
daerah steady state di dalam korosi tegang dalam daerah
dominasi akan berguna untuk menentukan waktu
patah dan memperkirakan kemungkinan korosi tegang
dari faktor-faktor di atas. Walaupun demikian, korosi
sumuran terjadi diseluruh permukaan pada konsentrasi
khromat 0.09 dan 0.1 kmol/m3 yang mengakibatkan
patah (bukan disebabkan oleh korosi tegang). Dalam
kasus ini, pertambahan panjang di daerah steady state
tidak dapat digunakan untuk memprediksi waktu
patah. Konsentrasi kritis dari khromat dan temperatur
kritis diperkirakan pada tegangan tetap sebesar
388 MPa. Hasil yang didapat, lebih jauh menunjang
mekanisme korosi tegang sudah dipublikasikan, yang
mana telah dibahas di dalam faktor dari rapat arus korosi
pada retakan dan sepanjang retakan propagasi.


Penulis : Sundjono, M.N. Setia Nusa, Harsisto, Moch. Syaiful Anwar,
Solihin, Harini, Ronald Nasoetion, Sundjono

Dewan redaksi : Bambang Widyanto, Isdiriayani Nurdin, Andika W. Pramono,
Ronald Nasoetion, Sundjono, Harini, Harsisto, Bintoro Siswayanti, Yulinda Lestari, Noor Hidayah
ISSN : 0126-3579
Tahun Penerbitan : 2009
Penerbit : LIPI PRESS

korosi-april2009.jpg (4 KB)

korosi-april2009.jpg (4 KB)

Satker: P2 Metalurgi
This entry was posted in Korosi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>