Jurnal Teknologi Indonesia, Vol. 34 No. 1, 2011

PenulisArtikelAbstrak
Desak Gede Sri Andayani and Vienna SaraswatiANTIVIRAL DRUG FROM STREPTOMYCES MALAYSIENSIS
STRAIN TT41 CULTURE
The objective of this research is to investigate the bioactive compound from secondary metabolite of Streptomyces
malaysiensis strain TT41 as antiviral. Antiviral assay was performed using in vitro with reverse transcription
polymerase chain reaction (RT PCR) method. Antiviral activity was analyzed through the ability of the compounds
yielded from the microorganism in inhibiting reverse transcriptase enzyme in the viral replication cycle. Samples
were taken from the fermentation broth of Streptomyces malaysiensis strain TT41 in 100 L scale. Extraction of the
fermentation broth was conducted using n-hexane, ethyl acetate, and n- buthanol solvent (1:1 v/v, three times). The
highest yield was obtained from n- buthanol extract (78,21 g/100 L). Preliminary result of n-buthanol extract was
then performed through column chromatography with resin HDP 600 eluted by aquadest and ethanol 25%–100 %
respectively. It resulted four major fractions, namely fraction A, B, C and D. Refractionation process on fraction A
was done using conventional (gravitational) column chromatography with step wise gradient elution of n-hexaneethyl
acetate (8:2) and ethyl acetate-methanol (9:1). Meanwhile, refractionation on fraction B was done using dry
fl ash column chromatography with silica gel 60 G and was eluted using dichloromethane: methanol (100%–50%)
respectively. Purifi cation from the yield of fraction A and B was performed using preparative Thin Layer Chromatography
and Si Gel F254 plate with eluent dichloromethane: methanol (95% v/v) to get example of NMR and LC-MS
analysis. The result of RT PCR assay from buthanol extract, fraction A, B, C, and D showed an inhibition activity
on Reverse transcriptase enzyme. It was indicated by the lower intensity of the sample than positive control. The
spectrum analysis on 1H NMR , 13C NMR, and LC-MS showed that one of the compounds found in fraction A is a
derivative of cyclohexyacetaldehyde that has 349,18 molecular mass.
Eka Dian Pusfi tasari dan Retno YusiasihTEKNIK DERIVATISASI HISTAMIN
MENGGUNAKAN BIS-TRIMETHYL SILYL
TRIFLUOROACETAMIDE (BSTFA) - TMCS 1% DALAM ANALISIS
HISTAMIN DENGAN GAS KROMATOGRAFI
Histamin adalah salah satu senyawa biogenik amin yang berasal dari dekarboksilasi histidin bebas oleh bakteri
yang mengandung enzim histidine dekarboksilase. Analisis pengukuran histamin sangatlah penting untuk penjaminan
keamanan konsumen terutama untuk produk seperti daging, ikan, keju, dan lain sebagainya. Konsumsi histamin
dalam jumlah besar dapat menimbulkan efek negatif bagi kesehatan. Gas Kromatografi (GC) merupakan suatu
teknik analisis yang sampai saat ini berkembang di dunia kimia analitik. Metode analisis histamin dapat dilakukan
menggunakan peralatan GC dengan kolom DB-5 dan detektor FID melalui proses derivatisasi menggunakan BSTFA
dan katalis TMCS 1%. Analisis histamin tanpa melalui proses derivatisasi tidak memberikan puncak kromatogram
yang dihasilkan. Namun, dengan proses derivatisasi, diperoleh puncak kromatogram pada waktu tambat (RT) ke
11.3; 12.1; 12.2 menit yang merupakan hasil derivat histamin oleh gugus Trimethylsilyl (TMS) dari BSTFA. Kondisi
optimum untuk proses derivatisasi dicapai pada suhu 60oC selama 45 menit dengan jumlah BSTFA-TMCS
1% yang ditambahkan sebesar 20 ul.
Lucia Indrarti dan IndriyatiSIFAT FISIS DAN MEKANIS BAKTERIAL SELULOSA
DARI LIMBAH BUAH-BUAHAN
Telah dilakukan analisis sifat fi sis, yakni ketebalan, berat basah dan kering, morfologi dan sifat mekanis dari
bakterial selulosa (BS) yang ditumbuhkan dalam limbah buah, yakni kulit nanas dan limbah tomat. Keduanya
digunakan sebagai medium tumbuh bakteri Acetobacter xylinum dengan penambahan gula (0,5; 7,5; 10; dan 15%)
dan amonium sulfat (0 and 0,5%). Laju pertumbuhan BS diamati dengan mengukur ketebalan lapisan BS terhadap
waktu pembentukan lapisan BS pada permukaan medium fermentasi. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kedua
medium mampu membentuk BS dengan ketebalan yang berbeda (0,1–1,23 cm) untuk waktu fermentasi yang
sama. Penambahan gula dan amonium sulfat yang sama menghasilkan laju pertumbuhan BS pada medium limbah
tomat lebih tinggi dari laju pertumbuhan BS pada medium kulit nanas. Pada penambahan amonium sulfat 0,5%,
aktivitas Acetobacter tertinggi dicapai dengan penambahan gula 5% pada medium limbah tomat dan penambahan
gula 7,5% pada medium kulit nanas dengan ketebalan tertinggi masing-masing 1,23 dan 1,03 cm. Berdasarkan
ketebalan maksimum yang diperoleh dari masing-masing medium limbah tersebut dilakukan uji mekanis. Kuat
tarik dan modulus elastis lembaran tipis bioselulosa pada medium kulit nanas dengan penambahan amonium sulfat
adalah 213,93 MPa dan 12,38 GPa, sedangkan pada medium limbah tomat dengan penambahan ammonium sulfat
adalah 166,45 MPa dan 8,79 GPa.
Yulia Anita, Muhammad Hanafi , Rika WulandariSINTESIS DAN UJI SITOTOKSITAS
HIDROKSIPIKOLINIL DIPENTIL GLUTAMATE ESTER
TERHADAP SEL MURINE LEUKEMIA P-388
Antibiotik UK-3A dielusidasi sebagai turunan dilakton cincin sembilan. Senyawa ini diisolasi sebagai komponen
minor dari Streptomyces sp. 517-02. Antibiotik tersebut mempunyai potensi dalam menghambat pertumbuhan
sel P388 murine leukemia. Berdasarkan hasil prediksi dengan melihat parameter QSAR termasuk virtual molecular
docking untuk melihat kenaikan efek lipofi litas dari aktivitas antikanker analog UK-3A. Analog UK-3A,
3-hidroksipikolinil dipentil glutamat ester disintesis dari L-glutamat dan pentanol, kemudian hasilnya direaksikan
dengan 3-hidroksipikolinat. Hasil senyawa tersebut diidentifi kasi dengan menggunakan spektrophotometer 1H and
13C FT-NMR, FT-IR, dan LC-MS. Hasil uji sitotoksitas menunjukkan bahwa senyawa 3-hydroxypicolinyl dipentil
glutamat ester (PDPGE) menunjukkan peningkatan aktivitas dalam menghambat pertumbuhan sel kanker leukemia
P388, dengan nilai IC050 sebesar 9 μg/mL, sedangkan UK-3A mempunyai IC50 sebesar 38,4 μg/mL.
Sri Pudjiraharti, Wawan Kosasih, Een Sri Endah,
Puspita Lisdiyanti, Michiko Tanaka,
dan Kozo Asano
INULIN FRUKTOTRANSFERASE
DARI STRAIN ID06A0189
Inulin fruktotransferase adalah suatu enzim yang dapat mengubah inulin menjadi di-D-fructofuranose 1,2’:2,3’
dianhydride (DFA III; difructose anhydride III). Untuk mendapatkan mikroba penghasil inulin fruktotransferase,
telah dilakukan penapisan terhadap 94 isolat aktinomisetes asli Indonesia. Diperoleh sebuah isolate, yaitu strain
ID06A0189 yang menghasilkan inulin fruktotransferase dalam supernatan kulturnya. Produksi enzim tersebut
secara fermentasi dalam medium dengan berbagai kadar inulin sebagai sumber karbohidrat dan ekstrak ragi sebagai
sumber nitrogen menghasilkan aktivitas enzim maksimum 28,3 unit/ml setelah 48 jam. Aplikasi enzim inulin
fruktotransferase untuk preparasi DFA III dari ekstrak umbi dahlia spp. jenis bunga semi kaktus warna merah dan
putih menunjukkan kadar DFA III masing-masing 13,3 dan 12,2 mg/ml. Jumlah tersebut hampir separuh kadar DFA
III (27,5 mg/ml) yang dihasilkan dari larutan inulin komersial dengan konsentrasi 50 mg/ml.
Holia Onggo, Lucia Indrarti, dan Rike YudiantiTHE EFFECT OF ALKALI TREATMENT
ON THE STRUCTURE OF BACTERIAL CELLULOSE
Sodium hydroxide (NaOH) is commonly used for purifi cation process of bacterial cellulose. The structural
and morphological changes of bacterial cellulose (BC) in wet and dry states were investigated to fi nd the effects of
NaOH treatment. Changes in the structure of bacterial cellulose occurred at a critical region of 12.0–18.0% (w/v)
NaOH concentrations. In the critical region, BC sheet drastically shrinked, confi rmed in diameter reduction from
12–71% in wet state and 12–76% in dry state after NaOH treatment. Coversion from cellulose I to cellulose II was
clearly observed in the profi les of X-Ray diffraction after NaOH treatment at 16.0 and 18.0% (w/v). The condition
was also confi rmed in morphological surface of cellulose fi ber undergoing destruction of cellulosic fi ber network,
particularly at 16.0 and 18.0% NaOH.
Andreas, Dyah Styarini, Yohanes Susanto Ridwan, dan Retno YusiasihOPTIMASI DAN VERIFIKASI KROMATOGRAFI GAS
UNTUK PENENTUAN RESIDU PESTISIDA
Residu pestisida golongan organoklorin di antaranya ά-endosulfan, ß-endosulfan, dan golongan piretroid, yakni
sipermetrin dan bifentrin dapat dianalisis dan dipisahkan dengan menggunakan kromatografi gas-detektor penangkap
elektron yang dilengkapi dengan kolom DB-5. Kondisi temperatur injektor diset 250°C, temperatur detektor
300°C, dan temperatur oven terprogram. Waktu retensi untuk masing-masing senyawa ά-endosulfan ß-endosulfan,
bifentrin, dan isomer sipermetrin berturut-turut 9,327 menit; 10,489 menit; 12,822 menit; dan 17,788–18,191 menit.
Batas deteksi minimum alat sebesar 0,0337 ppb untuk ά-endosulfan, 0,0528 ppb untuk ß-endosulfan, 0,5039 ppb
untuk bifentrin,dan 4,3627 ppb untuk sipermetrin. Linieritas alat dengan koefi sien korelasi r2 sebesar 0,9998 pada
rentang konsentrasi 1,71–126,36 ppb untuk ά-endosulfan, r2 sebesar 0,9999 pada rentang konsentrasi 1,61–119,05
ppb untuk ß-endosulfan, r2 sebesar 0,9993 pada rentang konsentrasi 1,57–116,14 ppb untuk bifentrin, dan r2 sebesar
0,9922 pada rentang konsentrasi 1,58–116,34 ppb untuk total isomer sipermetrin. Presisi waktu tambat (Rt)
berturut-turut untuk α-Endosulfan, β-endosulfan,bifentrin, dan empat isomer sipermetrin sebesar 0,026%; 0,030%;
0,031%; 0,024%; 0,024%; 0,025%; 0,020% serta presisi area α-Endosulfan, β-endosulfan,bifentrin, dan empat
isomer sipermetrin 4,023%; 4,568%; 4.927 %; 9,927%; 10,431%; 11,120%; 3, 9,517% .
Erlyta Septa Rosa dan ShobihANALISIS PENGARUH LAPISAN ANTIREFLEKSI ZNO
DAN TIO2 TERHADAP SIFAT OPTIK DAN SIFAT LISTRIK
SEL SURYA SILIKON MULTIKRISTAL MENGGUNAKAN
PROGRAM SIMULASI PC1D
Dalam penelitian ini telah dilakukan simulasi menggunakan program PC1D untuk mengetahui pengaruh penggunaan
lapisan antirefl eksi ZnO dan TiO2 terhadap faktor-faktor yang berkontribusi terhadap besarnya efi siensi
sel surya silikon multikristal. Dengan menggunakan data hasil pengukuran refl eksi sebagai input maka informasi
mengenai Efi siensi Kuantum Eksternal (EQE) untuk sifat optik dan kurva I-V untuk sifat listrik sel surya dapat
diperoleh. Hasil simulasi menunjukkan bahwa dibandingkan dengan sel surya tanpa lapisan antirefl eksi, nilai EQE
rata-rata meningkat dari 59,77% menjadi 77,24% dan 71,57% masing-masing untuk sel surya dengan antirefl eksi
ZnO dan TiO2. Nilai arus hubung singkat meningkat 30% dan 20%, daya maksimum dan efi siensi sama-sama
meningkat 31% dan 25%. Adapun untuk tegangan sirkit terbuka nilainya tidak banyak berbeda dengan sel surya
tanpa lapisan antirefl eksi. Sel surya dengan antirefl eksi ZnO mempunyai karakteristik optik maupun karakteristik
listrik yang lebih tinggi dibandingkan dengan TiO2.

Penulis : Desak Gede Sri Andayani, Vienna Saraswati, Eka Dian Pusfitasari, Retno Yusiasih, Lucia Indrarti, Indriyati
Yulia Anita, Muhammad Hanafi, Rika Wulandari,
Sri Pudjiraharti, Wawan Kosasih, Een Sri Endah, Puspita Lisdiyanti, Michiko Tanaka, Kozo Asano, Holia Onggo, Lucia Indrarti, Rike Yudianti, Andreas, Dyah Styarini, Yohanes Susanto Ridwan, Retno Yusiasih, Erlyta Septa Rosa, Shobih

Dewan redaksi : Tarzan Sembiring, Moch Ichwan, Dyah Hardini, Goib Wiranto, Adiseno, Tigor Nauli, Elan Djaelani, Linar Z Udin, Adrin Tohari, Fauzan A, Fatimah ZS Padmadinata, Masno Ginting, Rudi Subagja, Sarwintyas Prahastuti, Siti Kania Kushadiani, Nanik Supriyanti, Euis Setiawati, Junaedi Mulawardana
ISSN : 0126-1533
Tahun Penerbitan : 2010
Penerbit : LIPI PRESS

TI-VOL-34-NO1_-2011_OK_KRM.jpg (6 KB)

TI-VOL-34-NO1_-2011_OK_KRM.jpg (6 KB)

Satker: UPT BIT
This entry was posted in Teknologi Indonesia. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>