KOMUNIKA, Majalah Ilmiah Populer Komunikasi Dalam Pembangunan Vol. 9, No. 2, 2006

PenulisArtikelAbstrak
Dr. Rhenald Kasali, M.A. Transformasi Usaha Industri Media Massa Berkaitan dengan berakhirnya perang dingin, dunia mulai menyaksikan pentingnya peranan televisi yang dibantu oleh teknologi satelit dapat menembus batas-batas negara dengan cepat. Dapat dikatakan akhir abad 20 (terutama antara 1985–2000), adalah eranya televisi. Televisi dengan cepat menggeser peranan media cetak karena kesegeraannya (dalam bahasa Hiebert (1995): “the message are here one moment, gone the next”). Di samping itu, televisi didukung oleh investasi yang cukup besar dalam soft assets1-nya telah mampu menggali persoalan-persoalan pelik dalam masyarakat. Tentu saja hal ini masih menjadi pertanyaan besar bagi kemampuan pertelevisian kita karena sifat televisi masih sangat umum dengan segmentasi yang sangat lebar. Mampu atau tidaknya televisi menggali berita dengan baik, akan sangat ditentukan oleh pilihan segmentasi media berdasarkan atribut berita (bukan segmentasi berdasarkan atribut konsumen demografi atau psikografi). Oleh karena itu, kehadiran Metro TV yang fokus kepada berita menimbulkan banyak harapan di sini
Ade Mulyana Hiperealitas pada (Pos) Media: Telaah Diskursus dalam Membelah Realitas Semu Media kini memasuki era posmedia. Sebuah era di mana media dengan menggunakan kemajuan teknologi dan pencitraan berperan sebagai agen representasi realitas, sebuah simulacrum. Media, dengan segala kepentingan dan ideologinya, dengan tanpa disadari oleh sebagian besar khalayak akan mampu melakukan hal apa pun, termasuk menampilkan realitas versinya. Sebuah realitas yang dengan bumbu pemanfaatan teknologi canggih dan pemilihan bahasa mengakibatkan tumpang-tindihnya realitas itu sendiri dengan realitas semu, realitas yang mungkin dikurangi atau malah dilebih-lebihkan. Sebuah zaman di mana terjadinya kematian realitas, sebuah zaman hiperealitas. Di sini, penulis menggunakan benang merah penggunaan telaah diskurus untuk membelah-belah dan memilah realitas dan hiperealitas media
Dr. Billy Sarwono Atmonobudi Perempuan dan Media dalam Konteks Pemilu 2004 Momentum Pemilu 2004 merupakan kesempatan untuk mendiskusikan komitmen partai politik terhadap perempuan. Affirmative action yang tertera dalam kuota 30% untuk keterwakilan perempuan, merupakan era terobosan bagi perempuan dalam politik. Namun sayangnya, saat ini masalah perempuan dan politik masih merupakan dua hal yang sulit dibayangkan, terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia ini.
Ir. Aji Sularso, M.M. Profesionalisme Humas dalam Menghadapi Tantangan Sering kali dikatakan bahwa public relations (PR) merupakan bidang yang baru muncul beberapa tahun lalu. Kesan seperti ini biasanya dialami oleh negara-negara yang merdeka dalam tiga puluh tahun terakhir. Sebenarnya kemunculannya telah lama, bahkan jauh sebelum berdirinya Amerika Serikat. Hal ini dapat diketahui ketika melihat sejarah awal manusia berkomunikasi dan mencoba memahami tentang segala sesuatu yang disampaikan, misalnya melalui tulisan, gambar-gambar, lambang, dan isyarat lainnya. Bahkan di beberapa literatur dikatakan bahwa kitab-kitab suci berbagai agama mengandung suatu bentuk PR karena di dalam kitab tersebut manusia selalu berusaha menciptakan suatu pemahaman tentang iman yang dianut. Untuk menciptakan pemahaman tentu saja diperlukan suatu komunikasi timbal balik di antara orang yang terlibat di dalamnya
Dr. Thung Ju Lan, M.A.Isu-Isu Kultural dalam Komunikasi Antar Budaya Di abad ke-21 ini apa yang dimaksud dengan komunikasi umumnya menyangkut komunikasi antarbudaya karena dalam lingkungan yang kian mengglobal hari ini kita juga kian dituntut untuk memahami orang-orang yang datang dari negara dan kebudayaan yang berbeda dengan yang kita miliki. Oleh sebab itu, menurut Elaine Winters1 berkomunikasi adalah lebih dari sekadar menulis dan mengedit, ia juga melibatkan pengumpulan informasi dan kerja tim, dan ada tiga komponen utama pada setiap komunikasi, yaitu 1) Persoalan subjek; 2) Media pengantar/perantara; dan 3) Pertimbangan-pertimbangan budaya. Biasanya poin yang ketiga ini cenderung diabaikan
Toni Soetopo Peranan Komunikasi dalam Meningkatkan Partisipasi Masyarakat Terhadap Lingkungan Hidup Melalui Ekowisata Kehidupan di bumi ini diisi dan dipadati oleh berbagai makhluk hidup yang dalam kehidupannya sehari-hari saling melakukan hubungan timbal balik satu dengan lainnya. Selain itu, mahkluk tersebut melakukan komu–nikasi, interaksi, dan adaptasi satu dengan lainnya, baik dengan benda hidup maupun mati yang ada di sekitarnya. Salah satu jenis mahkluk hidup yang melakukan kegiatan tersebut adalah manusia. Oleh karena itu, apa–bila berbicara dan melakukan studi tentang lingkungan hidup, tidak dapat dipisahkan dari hubungan manusia dengan benda-benda yang berada di sekelilingnya
Drs. Ary Wahyono, M.Si. Pentingnya Komunikasi Antara Stake Holders dalam Penanganan Pertambangan Tanpa Izin (PETI) Sejak tahun 1970-an, pengembangan industri pertambangan telah meningkat dengan cepat, baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun luar negeri. Berbagai komoditi digarap mulai dari pertambangan minyak dan gas bumi, batu bara, timah, emas, dan perak, juga bahan galian seperti pasir, batu kali, batu gamping. Bahkan tidak hanya penambangan mineral yang meningkat, tetapi juga diikuti dengan pertumbuhan industri pengelolaan dan pembuatan barang jadi. Pertambangan yang merupakan industri tertua kedua setelah pertanian, diharapkan dapat menjadi kutub pertumbuhan atau growth pole bagi daerah sekitar. Asumsi dasar di balik harapan ini adalah bahwa proyek-proyek industri pertambangan diharapkan membawa efek “penetesan” dalam pertumbuhan ekonomi
Dr. Naswil Idris, M.APeran Pusat Informasi Terpadu (Multi-Purposes Community Telecenter-MPCTC) untuk Meningkatkan Kualitas Hidup Bangsa Indonesia Setiap orang berhak untuk berkomuni–kasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya. Setiap orang berhak untuk mencari dan memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. Hak warga negara untuk berkomuni–kasi dan memperoleh informasi dijamin dan dilindungi (Tap. MPR No. 17/1998). Kete–tapan MPR ini merupkan ratifikasi formal dari deklarasi hak-hak asasi manusia PBB 51 tahun yang lalu
Prof. Rusdi Muchtar, S.S., M.APeran Pendidikan dalam Rangka Otonomi Daerah Satu upaya rekayasa sosial (social engineering) yang paling berhasil dalam mewujudkan dan memajukan peradaban manusia adalah pranata dan lembaga pendi–dikan. Manusia dari mana pun (negara, ras, suku bangsa) telah menjadikan pendidikan sebagai suatu kebutuhan untuk pengembangan pribadi. Dan pengembangan berbagai pribadi itu tentu mempunyai dampak terhadap pengembangan keluarga, lingkungan tempat tinggal, komunitas sampai ke tingkat negara. Pendidikan yang terencana dan berada dalam satu sistem tertentu telah menjadi warga suatu komunitas menjadi “terpelajar”. Dan tentu saja akibat mereka terpelajar, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh yang bersangkutan. Umpamanya, karena pendidikan tertentu dia bisa bekerja di bidang tertentu dan itu mem–bawa kebahagiaan untuk dirinya sendiri be–serta keluarganya dan masyarakat yang lebih luas
Drs. Soedito Sosrodihardjo Tiga Puluh Delapan Tahun LIPI: Quo Vadis? Tiga puluh delapan tahun sudah usia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bila dihitung dari tanggal dikeluarkannya Keppres No. 128 tahun 1967 pada tanggal 23 Agustus 1967. Cukup dewasa sudah usia–nya untuk menyumbangkan hasil tugas dan fungsinya kepada kemajuan dan kesejahteraan bangsa. Namun secara genealogis institusi LIPI jauh lebih tua daripada apa yang dikira orang
Ton Kertapati Masih Relevankah Sistem Nasional Indonesia pada Era Pasca Reformasi Dewasa Ini? Mengawali tulisan ini diajukan per–tanyaan: “Masih relevankah pendekatan sistem dalam pemecahan persoalan-persoalan nasional?”. Mengingat hasil pengamatan, mental image golongan tertentu bangsa Indonesia terhadap makna pembukaan UUD 1945 sebagai tujuan dari Sistem Kehidupan Nasional semakin hari semakin pudar, tidak bermakna.


Penulis : Rhenald Kasali, Ade Mulyana, Billy Sarwono Atmonobudi, Aji Sularso, Thung Ju Lan, Toni Soetopo, Ary Wahyono, Naswil Idris, Rusdi Muchtar, Soedito Sasrodiharjo, Ton Kertapati

Dewan redaksi : Pemimpin Umum: Wakil Kepala LIPI. Wakil Pemimpin Umum: Sekretaris Utama LIPI. Pemimpin Redaksi: Kepala BKPI. Wakil Pemimpin Redaksi: Dra. Oemi Atiyah, M.M. Sekretaris Redaksi: Heni Rosmawati, S.Si., M.Si. Pemimpin Produksi: Dra. Sarwintyas Prahastuti, M.Hum. Redaktur: Dr. Phil. I Ketut, Ardhana, M.A., Drs. Dwi Purwoko, M.Si., APU, Ken Trisno, S.E., M.M., Dra. Till Pardede, Dra. Kasih Rahayu. Staf Redaksi: Tri Budi Iswaryanto, S.S., Dewi Nuryaningsih, B.A., Soeparno, S.Sos., Uus Nandang Iskandar, Dyah Rachmawati, A.Md. Editor Bahasa: Nanik Supriyanti, S.S. Desain Sampul: Junaedi Mulawardana, A.Md. Distribusi/Sirkulasi: Soegiarti Soepeno, S.Sos., Dwi Wiyanti, Sri Hustanti. Narasumber: Prof. Drs. Rusdi Muchtar, M.A.
ISSN : 0126-2491
Tahun Penerbitan : 2006
Penerbit : LIPI PRESS

komunika_09_02_06k.gif (3 KB)

komunika_09_02_06k.gif (3 KB)

Satker: BKPI-LIPI
This entry was posted in Komunika. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>