METALURGI, Vol. 23 No. 2, Desember 2008

PenulisArtikelAbstrak
F. FirdiyonoPercobaan Pembuatan Barium Karbonat dengan Menggunakan Bahan Baku Utama Mineral BaritTelah dilakukan percobaan pembuatan barium karbonat pada skala laboratorium dengan menggunakan bahan baku utama mineral barit yang berasal dari daerah Cikondang, Tasikmalaya. Pembuatan barium karbonat merupakan langkah dan produk awal untuk membuat kimia barium dari mineral barit. Hasil percobaan memperlihatkan bahwa barit alam berkualitas rendah pun masih dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan kimia barium. Beberapa langkah utama yang dilakukan dalam proses ini adalah: Pemanggangan reduksi yang dilakukan dengan reduktor batu bara, pelarutan dengan media air, dan pengendapan barium karbonat dengan menggunakan soda abu. Barium karbonat yang diperoleh mengandung 97,7% BaCO3 dan 2,3% SrCO3 dengan total recovery 87,2%. Produk kimia barium seperti barium titanat, barium sulfat, barium khlorida dan lain-lainnya akan mudah diperoleh dengan mereaksikan barium karbonat dengan bahan kimia yang sesuai.
G.N. Anastasia Sahari, Anne Zulfia dan Eddy S. SiradjPengaruh Temperatur terhadap Densitas dan Porositas Komposit Al2O3/Al Produk Directed Metal OxidationPenelitian ini bertujuan untuk mengamati pengaruh dari temperatur terhadap densitas dan porositas komposit matriks keramik Al2O3/Al hasil produk Directed metal oxidation. Sampel komposit dibuat dengan cara menempatkan ingot Al di bawah serbuk alumina dan 8% wt Mg dalam tray, kemudian disinter dengan temperatur 1100,1200, dan 1300oC dengan waktu tahan 24 jam dan selanjutnya didinginkan sampai temperatur kamar dalam dapur. Hasil penelitian menunjukkan semakin tinggi temperatur sinter, infiltrasi Al akan semakin besar dan densitas maksimum yang dicapai sebesar 3,51 gr/cm3 pada temperatur 1100oC dan porositas minimum adalah 3,6% juga pada temperatur 1100oC.
Bintang AdjiantoroPengaruh Temperatur Austemper terhadap Perubahan Struktur Mikro dan Kekerasan Besi Cor Noduler FeritikProses austempering dilakukan pada besi cor noduler feritik dengan memvariasikan suhu temper mulai dari 250oC, 300oC, dan 400oC pada waktu penahanan 2 jam. Hasil percobaan diperoleh struktur acicular ferite atau bainit. Semakin rendah suhu austemper, semakin halus ukuran struktur bainit dengan kerapatannya yang tinggi. Nilai kekuatan dan kekerasan dari struktur bainit ini semakin tinggi yang diikuti dengan tingkat kegetasan yang semakin tinggi pula. Sebaliknya semakin tinggi suhu austemper, nilai kekuatan dan kekerasan dari struktur bainit ini semakin rendah, namun keuletannya cenderung meningkat.
Yusuf dan Edi HeriantoPembuatan Besi Nugget dari Pasir Besi dan Bijih Besi Laterit: Tantangan dan Kemungkinan KeberhasilannyaCadangan bijih besi Indonesia yang didominasi oleh bijih besi laterit dan pasir besi membutuhkan pendekatan proses yang tepat. Proses pembuatan besi nugget dengan teknologi ITMk3 yang menggunakan pereduksi batu bara memiliki berbagai kelebihan yang layak dipertimbangkan. Teknologi berbasis RHF yang dikembangkan oleh Midrex dan Kobe Steel ini telah siap dipakai untuk bijih besi konvensional, tetapi masih menyisakan tantangan menarik untuk dapat diterapkan pada bijih besi laterit dan pasir besi. Ada empat cara untuk mengatasi masalah yang mungkin timbul, yaitu: (1) pembentuk terak encer, (2) penggunaan jumlah pereduksi sub stoikiometrik, (3) penggerusan halus, dan (4) reduksi dua tahap. Perlu dilakukan penelitian mendasar untuk memungkinkan pemanfaatan bijih besi dalam negeri sebagai penopang industri besi baja nasional
M. N. Setia NusaAnalisis Tegangan Vessel yang Mengalami Deformasi Akibat LedakanAnalisis kerusakan dilakukan pada sebuah Vessel yang mengalami deformasi saat dilakukan Turn Around (TA) pada awal tahun 2001. Deformasi tersebut diakibatkan oleh ledakan yang terjadi di dalam vessel sehingga mendorong buffle yang mengakibatkan tertariknya shell vessel. Untuk itu, diperlukan beberapa pertimbangan dan perhitungan di antaranya dilakukan analisis dengan perhitungan tegangan untuk melihat efek dari ledakan dan deformasi yang terjadi pada material tersebut serta pengujian kekerasan dan identifikasi material dengan uji komposisi kimia. Dari hasil perhitungan dan analisis, vessel tersebut tidak aman digunakan untuk dua tahun mendatang karena pertimbangan dan perhitungan laju korosinya, sedangkan material sesuai dengan spesifikasinya serta kekerasan yang relarif masih normal sesuai standar. Untuk itu, diperlukan perbaikan pada dinding shell dengan beberapa alternatif pemotongan plat yang terdeformasi dengan pemotongan satu sisi, pemotongan dua sisi ataupun dengan penambahan penguat menyilang ataupun melintang.
Edi Herianto Peleburan Bijih Nikel Laterit Menggunakan Blast Furnace: Pelajaran dari ChinaKebutuhan logam nikel dibelahan dunia ini terus meningkat seiring dengan semakin majunya peradapan manusia. Kebutuhan logam nikel baik sebagai logam paduan maupun logam murni saat ini banyak diperlukan, diiringi juga dengan harga yang terus meningkat. Logam nikel banyak digunakan mulai dari konstruksi, transportasi, komunikasi sampai keperalatan perang. Maka selayaknyalah Indonesia membuat pabrik pengolahan biji nikel yang praktis dan sederhana, karena Indonesia memiliki cadangan bijih nikel yang berlimpah dan konon katanya berdasarkan data sebagai nomor tiga terbesar dunia. Salah satu teknologi yang sederhana adalah menggunakan teknologi yang konvensional, yaitu menggunakan blast furnace seperti yang dilakukan di China. Nikel laterit yang berupa fine sebelum diumpankan ke dalam blast furnace terlebih dahulu di buat sinter, dengan memanfaatkan gas buang dari blast furnace itu sendiri. Alhasil, dengan teknologi yang konvensional ini pengolahan nikel laterit lebih sederhana dan effisien.
Nurdin Effendi, A. K. Jahja, Yuswono and Saefudin Synthesis of New Austenitic Material By Powder Metallurgy MethodTelah dilakukan pembuatan bahan austenitik baru yang dinamakan dengan A-1 sebagai bahan studi untuk penukar panas reaktor daya. Pembuatan bahan paduan ini dilakukan dengan teknik metalurgi serbuk. Komponen unsur-unsur paduannya adalah Fe, Ni, Cr, Si, Mn, C, dan Ti. Masing-masing komponen bahan ditentukan persen beratnya dan ditimbang. Campuran unsur-unsur tersebut diaduk dengan ball milling selama 46 jam. Masing-masing sampel awal yang dibuat berupa pelet bermassa 25 gram, diperoleh dengan kompaksi menggunakan die berukuran diameter dalam 2,5 cm, dengan tekanan kompaksi 8000 psi. Setelah diberi perlakuan presinter pada 1150oC selama 48 jam, sampel disinter pada temperatur sekitar 1250oC selama 2 jam dan setelah waktu penyinteran mencapai 2 jam sampel diberi perlakuan deformasi plastis seperti ditempa dan atau diroll diteruskan dengan homogenisasi pada 1250oC selama sehari. Pengamatan struktur mikro dengan mikroskop optik menunjukkan bahwa bentuk butir fasa berbenuk pecahan segi empat atau segi lima. Pola difraksi diperiksa dengan difraktometer sinar-X dan hasilnya menunjukkan bahwa struktur kristalnya adalah fcc, sesuai dengan tipe fasa austenitik, dengan parameter kisi sekitar 3,61 Å. Hasil uji kekerasan dengan metoda Brinell menunjukkan bahwa bilangan kekerasan Brinell rata-ratanya berada dalam kisaran 200. Dari nilai-nilai kekerasan Brinell yang berada di atas nilai rata-rata kekerasan dari bahan SS-321 dan SS-347 dalam kelompok bahan grade clas of three (nonhardenable), maka bahan austenitik baru ini diharapkan sebagai bahan alternatif yang memiliki sifat mekanik dan ketahanan korosi yang lebih baik.
Saefudin, Yuswono, I Nyoman Gede P.A.Pengaruh Suhu Pemanasan terhadap Sensitasi Pada Baja Stainless Steel 304Penggunaan material baja austenit stainless steel 304 dengan kandungan 18%Cr dan 8%Ni adalah karena sifat ketahanannya terhadap serangan korosi, baik pada suhu tinggi maupun suhu rendah. Material ini banyak digunakan untuk konstruksi di lingkungan fluida korosif, seperti tangki wadah dalam ukuran tonase, pipa pengalir, dan heat exchanger. Sifat ketahanan korosi austenit stainless steel bisa menurun, karena mengalami sensitasi, yaitu pembentukan senyawa khrom karbida di batas butir, yang mengakibatkan serangan korosi di batas butir (intergranular corrosion). Namun, tipe 304 ini banyak diminati para konsumen karena harganya lebih murah daripada tipe 316L. Dalam penelitian ini, dilakukan percobaan untuk mengendalikan adanya sensitasi terhadap stainless steel tipe 304, melalui variasi pemanasan spesimen pada suhu 600oC sampai dengan 1200oC dengan pendinginan cepat (media air) dan pendinginan lambat (media di dalam tungku serta udara). Hasil percobaan menunjukkan bahwa pencelupan spesimen di media air setelah dilakukan pemanasan pada suhu tersebut, presipitasi senyawa karbida di batas butir dapat dikendalikan. Pemanasan spesimen pada suhu lebih rendah (600oC dan 800oC), presipitasi karbida dapat dikendalikan dengan kecepatan pendinginan relatif rendah, yaitu pendinginan di media udara. Pendinginan spesimen dengan kecepatan pendinginan lambat (di dalam tungku), sensitasi berlangsung.
Parikin dan A.H. IsmoyoMikrografi Sekitar Sambungan Las Baja Assab CorraxPengamatan strukturmikro baja Assab Corrax pada daerah heat affected zone telah dilakukan. Studi ini dilakukan dalam rangka mencari bahan yang tahan pada operasi suhu tinggi. Kombinasi perlakuan temperatur dan canai dimaksudkan untuk mengetahui efek mechano-thermo treatments terhadap bahan. Preparasi bahan dimulai dari cutting, mounting, grinding, polishing dan kemudian dietsa dengan menggunakan 2% Nital. Pengamatan strukturmikro dilakukan dengan menggunakan mikroskop optik, dengan pembesaran hingga 500x. Hasil memperlihatkan bahwa strukturmikro permukaan bahan adalah bainit (acicular ferit) dan panas lasan mempengaruhi proses transformasi acicular ferit (struktur sederhana) ke allotriomorphic ferit (struktur tak beraturan, segi banyak). Presipitat CrxIy (I=Ni, Al) pada bahan baja assab corrax merupakan unsur jenuh dan tumbuh dipengaruhi pemberian temperatur selama proses pencanaian.


Penulis : F Firdiyono, GN Anastasia S, Anne Zulfia, Eddy S Siradj,
Bintang Adjiantoro, Yusuf, Edi Herianto, MN Setia Nusa,
Edi Herianto, Nurdin Effendi, AK Jahja, Yuswono, Saefudin, I Nyoman Gede PA, Parikin, AH Ismoyo

Dewan redaksi : Pemimpin Umum: Kepala Pusat Metalurgi LIPI. Ketua Redaksi: Ir. Bambang Sriyono, Dipl. Ing. Dewan Redaksi: Dr. Ir. Rudi Subagja, Dr. Ir. F Firdiyanto, Prof. Dr. Ir. Johny Wahyuadi, DEA., Dr. Agung Imadudin, Dr. Eng. Efendi, Ir. Yusuf, Ir. Adil Jamali, M.Sc., Prof. riset Dr. Ir. Pramusanto, Dr. Ir. Sunara, M.Sc. Sekretariat: Dedi Irawan, S.T., Daniel Panghihutan Malau, S.T., Arief Nur Hakim, A.Md.
ISSN : 0126-3188
Tahun Penerbitan : 2008
Penerbit : LIPI PRESS

jurnal_metalurgi_desember2008.jpg (204 KB)

jurnal_metalurgi_desember2008.jpg (204 KB)

Satker: P2 Metalurgi
This entry was posted in Metalurgi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>