padi: inovasi teknologi: buku 2

Uraian dalam buku ini diawali dengan penjelasan tentang luasnya daerah penyebaran tanaman padi sejalan dengan proses domestikasi tanaman sejak tahun 7500 – 8500 SM di Cina, tahun 4000 SM di Asia Tenggara dan Asia Selatan, dan di Timur Tengah sekitar tahun 3000 SM. Ditengarai sampai saat ini terdapat 140.000 varietas padi termasuk spesies liar, kerabat spesies liar, varietas primitif, dan varietas modern, yang semua itu termasuk ke dalam salah satu jenis dari dua spesies padi yang sampai saat ini dibudidayakan yaitu, spesies oryza sativa dan oryza glaberrima. Karena plasma nutfah memiliki nilai potensial dan nilai aktual bagi kehidupan manusia, maka dalam buku ini diuraikan upaya-upaya manusia untuk melestarikan, karakterisasi keunggulan, dan pemanfaat plasma nutfah untuk kepentingan manusia. Beras merupakan bahan makanan pokok penduduk Indonesia, dengan kebutuhan yang terus meningkat. Untuk dapat memenuhi kebutuhan beras nasional, peningkatan produktivitas varietas padi terus diupayakan melalui peningkatan potensi hasil varietas dengan cara merakitan varietas hibrida dan varietas tipe baru yang berdaya hasil tinggi. Fenomena vigor hibrida atau heterosis yang muncul pada turunan pertama hasil perkawinan antar dua tetua yang berbeda merupakan dasar teoritis yang mendasari perakitan varietas padi hibrida. Dengan adanya heterosis, turunan pertama dari suatu kombinasi persilangan mampu menghasilkan gabah lebih tinggi dari kedua tetuanya. Dua syarat utama perlu dipenuhi agar teknologi hibrida padi dapat berhasil yaitu, nilai heterosis yang tinggi, dan kemampuan memproduksi benih F1 hibrida dalam skala komersial.

Pada buku ini diuraikan secara rinci tentang pengertian dan landasan genetika dari heterosis, cara-cara kuantifikasi tingkat heterosis, dan perkembangan kemajuan, serta permasalah yang dihadapi dalam pembentukan varietas padi hibrida di Indonesia. Perubahan tipe tanaman padi berlangsung secara alami sejalan dengan meningkatnya perkembangan ilmu dan teknologi, serta permintaan petani terhadap varietas berdaya hasil tinggi, maka dilapangan terjadi pergeseran jenis varietas padi yang ditanam petani, dari tipe padi tradisional yang dirakit sebelum tahun 1970-an yang berbatang tinggi, anakan sedikit, malai panjang sampai ke tipe padi modern yang beranak banyak berbatang pendek, daun tegak , dan responsif terhadap pemupukan seperti halnya IR8, yang pada zamannya berhasil menyelamatkan penduduk Asia dari bahaya kelaparan. Modifikasi arsitektur tanaman padi agar varietas lebih efisien dalam proses fotosintesis, dan memiliki indeks panen yang lebih baik, telah dilakukan dengan merakit varietas padi tipe baru (PTB). Varietas Fatmawati adalah protipe pertama dari PTB yang berbatang tegar, bermalai lebat dengan lebih 300 butir gabah/malai. Namun akibat kehampaan malai yang tinggi, serta beras berbutir kapur, menjadikan varietas tersebut tidak populer dikalangan petani. Permasalahan ketidak seimbangan antara sumber (source) dengan limbung (sink) dalam proses penimbunan asimilat hasil fotosistesis merupakan salah satu masalah dalam perakitan PTB, permasalah lain yang dihadapi, serta berbagai upaya pemecahan masalah yang telah dilakukan, serta status perkembangan pembentukan PTB diuraikan secara rinci dalam buku ini.

Dalam pertanian maju benih berperan sebagai penghantar teknologi yang terkandung dalam potensi genetik varietas. Manfaat dari keunggulan varietas akan terasa oleh produsen padi dan konsumen beras, bila benih varietas yang asli, murni, dan sehat tersedia untuk penanaman dalam skala luas. Benih yang demikian akan hanya diperoleh dari proses produksi yang menerapkan sistem manajemen mutu. Kondisi sistem perbenihan padi, faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam merencanakan, melaksanakan, mengawasi dan memeriksa kesesuaian proses produksi dan mutu benih yang dihasilkan dengan persyaratan mutu yang telah ditetapkan, serta kiat-kiat pemasaran benih yang efisien dijelaskan secara rinci dalam buku ini. Pemupukan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas tanaman. Walaupun demikian penggunaan pupuk kimiawi secara terus menerus pada dosis tinggi dapat berpengaruh negatif terhadap lingkungan, dan menurunkan tingkat efisiensi penggunaannya. Dalam buku diuraikan peranan sejumlah unsur hara makro dan mikro terhadap pertumbuhan tanaman padi, bagaimana cara mengukur ketersediaannya di dalam tanah, dan bagaimana menetapkan kebutuhan pupuk sesuai dengan kondisi lingkungan tumbuh tanaman. Lahan sawah tadah hujan dan lahan kering marjinal digolongkan sebagai ekosistem yang berisiko tinggi, karena terancam oleh kekeringan, kebanjiran, kegaraman, erosi, degradasi kesuburan lahan, dan infestasi organisme pengganggu tanaman. Ditengarai pula bahwa ekosistem ini (terutama lahan kering) merupakan kantong-kantong kemiskinan yang berpeluang sebagai pemicu dan pemacu degradasi sumberdaya alam, khususnya sumberdaya tanah. Variabilitas curah hujan yang sangat tinggi dan ketidak-pastian pola curah hujan bulanan membawa konsekuensi terhadap rendahnya hasil padi dan tidak adanya jaminan keberhasilan pertanaman palawija. Untuk mengatasi hal tersebut penggunaan teknik budidaya yang mampu ”memanen” curah hujan seperti halnya sistem tanam gogorancah untuk daerah tadah hujan, pola usahatani konservasi untuk lahan kering terbukti mampu meningkatkan produktivitas tananam padi. Uraian rinci tentang upaya penyempurnaan berbagai komponen teknologi gogo rancah dan sentuhan intensifikasi pada usahatani lahan kering seperti, penggunaan varietas padi unggul yang adaptif, dan berbagai teknologi budidaya yang dikemas dalam model pengelolaan tanaman terpadu dapat dibaca dalam buku ini.

Gulma atau tumbuhan pengganggu merupakan salah faktor biotik yang dapat berperanan sebagai tumbuhan inang hama dan penyakit tanaman, penyumbatan saluran irigasi sehingga pengelolaan air tidak efisien, pesaing bagi tanaman padi untuk mendapatkan cahaya, air, dan hara, sehingga kuantitas dan kualitas hasil panen padi menurun. Uraian rinci tentang mekanisme persaingan, dan periode kritis persaingan gulma dengan tanaman utama, klasifikasi gulma, prinsip dasar dan teknik pengendalian gulma yang efektif dirinci dalam tulisan ini. Tikus sawah (Rattus argentiventer Rob dan Kloss), penggerek batang padi kuning Scirpophaga incertulas, penggerek batang padi putih Scirpophaga innotata, penggerek batang padi bergaris Chilo suppressalis, dan penggerek batang padi merah jambu Sesamia inferens. wereng coklat, Nilaparvata lugens.; wereng punggung putih, Sogatella furcifera; dan wereng hijau, Nephotettix spp., siput murbai (Pomacea canaliculata Lamarck) adalah hewan-hewan yang menjadi hama utama tanaman padi. Selain hama-hama tersebut, sekitar 17 spesies serangga teridentifikasi sebagai hama yang menyebabkan kerusakan gabah/beras di gudang. Selain itu sejumlah hama lain yang kepadatan populasi pada suatu waktu berada pada tingkat yang tidak membahayakan, suatu saat dapat menimbulkan wabah akibat terjadi perubahan lingkungan internal maupun eksternal yang menggangu keseimbangan biologi hama. Terjadinya eksplosi hama-hama tersebut sangat merugikan petani, dan mengancam keberhasilan peningkatan produksi padi. Upaya untuk menekan populasi hama serendah mungkin sehingga berada dibawah ambang ekonomis, dapat dilakukan dengan bermacam-macam metode dan teknologi pengendalian. Pengendalian hama yang di dasarkan pada pemahaman ekologi dan perilaku masing-masing hama akan membuahkan hasil yang optimal.

Berkaitan dengan hal tersebut dalam buku ini diuraikan dengan rinci ekologi, habitat, biologi reproduksi, serta bagaimana dan kapan pelaksanaan pengendalian hama dapat dilakukan sacara efektif. Kondisi ketidak normal tanaman, organ tanaman, atau sistem metabolisme tanaman dapat disebabkan oleh cekaman organisme mikro yang tergolong bakteri, cendawan, dan virus. Berdasarkan wilayah penyebaran, dan peranannya terhadap nilai ekonomi produk padi, penyakit utama yang secara kontinyu menjadi penyebab tidak munculnya potensi genetik produktivitas varietas padi adalah penyakit yang disebabkan bakteri seperti hawar daun bakteri (Xanthomonas oryzae pv.oryzae (Xoo)), bakteri daun bergores (Xanthomonas oryzicola pv.oryzicola), penyakit yang disebabkan cendawan seperti blas(Pyricularia grisea), bercak daun coklat (Helminthosporium oryzae), busuk batang (Helminthosporium sigmoideum), dan hawar pelepah daun (Rhizoctonia solani), jamur upas (Sclerotium rolfsii dan Pythium sp) dan penyakit virus tungro yang disebabkan oleh dua jenis virus yaitu virus batang tungro padi (rice tungro bacilliform virus, RTBV) dan virus bulat tungro padi (Rice Tungro Spherical Virus, RTSV). Disamping penyakit-penyakit tersebut masih banyak penyakit-penyakit padi lainnya yang bersifat laten dalam arti sewaktu-waktu berpeluang muncul sebagai wabah yang dapat menggagalkan panen. Oleh karena itu, pada tulisan ini diuraikan karakteristik khusus masing-masing penyebab penyakit, dinamika populasi patotipe atau strain, faktor-faktor pendukung dan penghambat perkembangan penyakit, dan berbagai teknologi pengendalian yang dapat digunakan untuk menekan perkembangan masing-masing organisme penyebab penyakit. Tanaman padi tidak hanya menghasilkan beras sebagai sumber energi, dan zat gizi yang dapat dikonsumsi langsung masyarakat, tetapi juga berfungsi sebagai pangan fungsional. Selain itu juga menghasilkan bahan baku industri seperti jerami, sekam dan menir. Berbagai upaya optimalisasi manfaat produk dan hasil samping tanaman padi bagi pengguna langsung maupun kalangan praktisi agroindustri padi diuraikan secara jelas dalam buku ini.


Penulis : Aan A Drajat, Agus Setyono, A Karim Makarim, Andi Hasanuddin.
Editor : Hermanto, Siti Dewi Indasari, Agus Salim Yahya
ISBN : 978-979-799-392-4
No. Klasifikasi : 174.957
Subyek Klasifikasi : 1. padi.
2. teknologi produksi
Kolasi : xiv+643;17,0×24,5cm
Tahun Penerbitan : 2008
Penerbit : LIPI PRESS

Satker: Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Deptan
This entry was posted in Buku Ilmiah. Bookmark the permalink.

3 Responses to padi: inovasi teknologi: buku 2

  1. Heri says:

    bagaimana cara memperoleh buku tersebut. karena saya cari di Gramedia Jember buku tersebut tidak ada.

  2. admin says:

    Salam,
    Untuk mendapatkan buku ini, silahkan anda menghubungi Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Deptan , terimakasih

  3. untuk jilid 1 dan 3 ada tidak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>