| Penulis | Artikel | Abstrak |
|---|---|---|
| S. Pudjiraharti and A.T. Karossi | Peroxidase Activity Elicited by Horseradish Callus in Linsmaier-Skoog Liquid Medium | Calluses were obtained by inducing the leaf tissue of Horseradish plant on Linsmaier-Skoog (LS) agar medium containing naphtalene acetic acid (NAA) and benzyl amino purine as the growth hormone. To figure out optimum activation time various weight of 30 days subcultured calluses were grown in 25 ml LS liquid medium consist of NAA and Kinetin, incubated at room temperature (24-28oC), 100 rpm, in the dark for 15 days. The result indicated that ten days of incubation was an optimum time resulting maximum specific enzyme activity (SEA) for all weight of calluses. The highest maximum SEA 14.40 Unit/mg protein and 0.85 Unit/mg protein were indicated in 0.1 g callus culture for intracellular and extracellular enzyme respectively. Subcultured calluses in equal volume of the same medium and the same condition resulted higher SEA for almost four times for intracellular enzyme and more than six times for extracellular enzyme at shorter incubation period (6-8 days). |
| Yetti Mulyati Iskandar, S.Pudjiraharti and Patuan LPS | Strain Improvement of Brevibacterium sp ATCC 21866 for L-Lysine Production using Ultra Violet Irradiation | L-lysine is one of the essential amino acids and can be synthesized through many kind of treatments, one is fermentation process. Mutagenic treatment was carried out to increase L-lysine concentration of Brevibacterium sp ATCC 21866. Ultra violet irradiation was carried out at ë 254 nm for 60 second with 13 cm distance to the wild type strain for increasing L-lysine production. Auxotroph mutant of Brevibacterium sp ATCC 21866 (C 12, C16, C 19, and C 30) was used in shake flask fermentation for 4 days at 300 C with orbital shake at 150 rpm. The observation indicated that L-lysine concentration of the wild type strain Brevibacterium sp ATCC 21866 has 5,75 g/L, meanwhile the highest L-lysine concentration from auxotroph mutant of Brevibacterium sp ATCC 21866 (C 29) was 11,29 g/L. The induction of Ultra Violet irradiation of the wild type strain could increase 96% of L-lysine production. Increased L-lysine concentration occurs at day 4 in the fermentation process. |
| Ambar Susilorukmi | Diversity of Syntrophic Substrate-Oxidizing Anaerobes Determined by 16S rRNA Gene Analysis | Diversity of syntrophic substrate oxidizing anaerobes of mesophilic and thermophilic environments were analyzed by applying conventional cultivation techniques combined with molecular approaches. For cultivation the syntrophic bacteria, various anaerobic samples were used as inocula in primary enrichments with propionate, benzoate and ethanol as substrate, individually. The almost all enrichment cultures comprised of F420 autofluorescent methanogen-like cells and other bacterial-type cells, producing methane along with substrate depletion. To identify the syntrophic bacteria that might occur in the enrichments, 16S rDNA-based cloning analysis was conducted for all enrichment cultures. Among the predominant clones recovered from each enrichment culture, some clones showed close relation with known bacteria to date as syntroph, such as Desulfovibrio sp. Nonetheless, several clones seemed to indicate novel bacterial lineages that have never cultivated and isolated so far, such as clones related with the genus Geobacter in two mesophilic ethanol enrichments, clones representing a deeply branched lineage of the phylum Firmicutes in a thermophilic ethanol enrichment culture, and clones related with the genus Desulfobulbus in a mesophilic propionate degrading anaerobes. To determine whether the dominant clones were derived from the dominant microbes in enrichment cultures, specific DNA probes were designed and applied for the cultures in fluorescence in situ hybridization analyses. This resulted in the detection of a number of DNA probe-reacted cells in all the cultures, suggesting the probe-positive cells were the dominant microbes in the cultures. This study strongly suggested that the strategy employing conventional techniques combined with 16S rRNA-based approaches is advantageous to determine the diversity of recalcitrant microbes like syntrophic microorganisms and to attempt at subsequent isolation of targeted cells. |
| T. Sembiring dan A. Fachmiasari S | Kombinasi Ekstrak Kedelai dengan Tepung Jagung dan Tapioka sebagai Media Produksi Kristal dan Spora Bacillus Thuringensis | Telah dilakukan penelitian produksi spora dan kristal protein Bacillus thuringiensis memakai kombinasi media bahan alam yaitu kombinasi tepung tapioka, tepung jagung, dan kacang kedelai. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kombinasi yang paling baik untuk produksi spora dan kristal protein B. thuringiensis. Penelitian dilakukan dengan menumbuhkan bakteri B. thuringiensis dalam sembilan kombinasi ekstrak kedelai dengan tepung jagung dan tapioca . Berdasarkan hasil penelitian, terdapat empat kombinasi media bahan alam terbaik untuk selanjutnya digunakan sebagai media produksi spora dan kristal protein yaitu M2, M3, M4, dan M9. Evaluasi yang dilakukan pada penelitian ini adalah kepadatan sel (OD sel), kepadatan spora (OD spora), kadar karbon dan nitrogen terpakai, dan biomassa spora dan kristal protein. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi media bahan alam terbaik yang menghasilkan produksi spora dan kristal protein tertinggi adalah media M4 dengan produksi biomassa sebesar 1,6720 g/L |
| Rustini S.K, Yuyu Wahyu dan Pamungkas Daud | Antena Mikrostrip Polarisasi Sirkula | Pengetahuan mengenai antena, khususnya di Indonesia masih perlu dikembangkan lebih luas lagi. Penelitian antena patch high gain untuk sistem komunikasi satelit bergerak dimulai dari hal yang paling sederhana yaitu merancang antenna mikrostrip atau yang sering juga disebut patch antena, untuk elemen tunggal. Untuk mendapatkan gain yang tinggi antenna elemen tunggal ini perlu dibuat dalam bentuk susunan antenna (array). Pada tulisan ini kami telah mendesain patch antena elemen tunggal. |
| Syamsu Ismail dan Iip Syarif Hidayat | Sistem Sensor Keamanan dengan Sinyal Signature Berbasis Derau dan Level Daya untuk Menghindari Jamming oleh Penyusup | Sistem sensor untuk areal dengan tingkat keamanan tinggi harus dibuat sehingga dapat mengenali sinyal jamming yang dikirim oleh penyusup. Sistem sensor dengan sinyal tertanda, atau signature, berbasis derau dapat memberikan tingkat keamanan yang cukup tinggi untuk keadaan khusus seperti tersebut di atas. Sistem sensor yang akan dibahas di dalam tulisan ini adalah sistem sensor dengan cahaya. Aplikasi sinyal derau sebagai pewaktu dalam sistem mempersulit untuk meramalkan data yang akan datang kemudian. Hal itu disebabkan oleh karena data tersebut, yang berfungsi sebagai signature, dikeluarkan secara acak. Intensitas sumber cahaya yang akan digunakan dimodulasi lebih oleh sinyal signature sebelum dilepaskan ke dalam daerah pemantauan. Di sisi pendeteksi, kode sinyal yang datang dibandingkan dengan sinyal sumber. Apabila sinyal tersebut masih sesuai, maka dianggap keadaan aman, bila sebaliknya dianggap tidak aman atau ada penyusup. Untuk menghindari penggunaan jalan lain, lewat pemantul, digunakan suatu pembanding daya optik acuan yang diset saat instalasi. |
Penulis : S Pudjiraharti, AT Karossi, Yetty Mulyati I, S Pudjiraharti, Patuan LPS, Ambar Susilorukmi, T Sembiring, A Fachmiasari S, Rustini SK, YUY Wahyu, Pamungkas Daud
Syamsu Ismail, Iip Syarif Hidayat
Dewan redaksi : Dewan Redaksi: Totok M. S. Soegandi (Ketua), Tarzan Sembiring (Wakil Ketua), Dyah Hardini (Sekretaris). Anggota: Mochmad Ichwan, Supartono S, Iip Syarif Hidayat, Adiseno, Tigor Nauli, Elan, Djaelani, Linar Zalinar Udin, Anny Sulaswatty, Adrin Tohari, Heru Santoso, Kreshna, Amurwabumi, Masno Ginting, Rudy Subagja. Redaksi Pelaksana: Agusto W. Martosudirdjo, Kamaludin, Euis Setiawati.
ISSN : 0126-1533
Tahun Penerbitan : 2004
Penerbit : LIPI PRESS

